KONEKSI ANTAR
MATERI PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL
MODUL 2.2 PROGRAM GURU PENGGERAK OLEH YUS WIDIANTINI CGP ANGKATAN-3-KOTA KUPANG
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR-FASILITATOR BAPAK AKHMAD WARAS, S.Pd, M.Pd-PENDAMPING
YOHANES YOSEF SERAN KLAU.
Kecerdasan intelektual tidaklah
cukup untuk membuat seseorang menjadi sukses. Mengapa demikian? karena kecerdasan
intelektual yang tidak ditunjang oleh kecerdasan sosial-emosional yang baik
maka kita tidak dapat melakukan interaksi yang baik dengan orang lain. Dengan
demikian Kesuksesan tidak hanya di dapatkan dari pendidikan yang tinggi atau
nilai akademik yang tinggi saja tetapi kesuksesan bisa di dapat dari rasa
sosial-emosional yang baik sehingga dengan demikian ia akan bermanfaat bagi
orang-orang yang ada disekitarnya.
Dalam mewujudkan kesuksesan
dimaksud, kita perlu membangun emosi anak. Untuk itu sebagai guru penggerak,
peran ini dapat dilakukan melalui penciptaan well-being pada ekosistem
pendidikan di sekolah yang dilakukan secara kolaboratif antara peserta
didik dan guru guna mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap/nilai
peserta didik. Hal ini berarti pula bahwa guru sebagai pendidik berkewajiban
dalam menciptakan kondisi nyaman, sehat dan bahagia bagi anak didiknya.
Menurut Mcgrath & Noble,
2011, murid yang memiliki tingkat well-being yang optimum memiliki kemungkinan
yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik, kesehatan fisik dan mental
yang lebih baik, memiliki ketangguhan dalam menghadapi stress dan terlibat
dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab. Hal ini juga di dukung oleh
peneliti Daniel Goleman, "kecerdasan intelektual menyumbang 20% kesuksesan
hidup manusia, selebihnya sekitar 80% berasal dari kecerdasan emosi dan
sosial". Ini membuktikan bahwa seorang yang sukses tidak hanya memiliki
kecerdasan pengetahuan, akan tetapi kecerdasan sosia-emosionalnya juga harus
baik.
Pembelajaran sosial emosional
adalah proses pembelajaran yang dimulai dengan pembentukan kesadaran dan
kontrol diri serta kemampuan dalam berkomunikasi. Hal ini penting diberikan
kepada anak didik agar mereka mampu bertahan dan sekaligus dapat
mengatasi setiap permasalahan sosial emosional yang dialaminya. Pembelajaran
ini dapat dilakukan dengan cara latihan berkesadaran penuh (mindfulness). Salah
satu latihan diri yang dapat digunakan adalah dengan teknik STOP, yaitu: S:
Stop (berhenti sejenak), T: Take a deep break (Menarik nafas dalam), O: Observe
(Mengamati apa yang terjadi pada tubuh, pikiran dan perasaan). P: Proceed
(Lanjutkan)
Dalam menumbuhkan dan
mengembangkan pembelajaran sosial emosional tersebut, ada 5 kompetensi dasar
yang dapat dikembangkan yaitu: 1. Kesadaran diri; 2. Pengelolaan diri; 3.
Kesadaran sosial (Empati); 4. Keterampilan sosial (Resiliensi) dan 5.
Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Sedangkan ruang lingkup
pembelajaran sosial emosional yang dapat diterapkan dalam ekosistem pendidikan
di sekolah adalah: 1. Kegiatan Rutin (Diluar waktu belajar akademik, misalnya:
kegiatan ekskul, perayaan hari besar, kegiatan sekolah, apel pagi, kerja bakti,
senam bersama, membaca bersama, pelatihan dsb); 2. Terintegrasi dalam mata
pelajaran (Diskusi, penugasan kerja kelompok); 3. Protokol (Menjadi budaya atau
aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara
mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau
kejadian tertentu.
Dampak dari keberhasilan dalam
penerapan KSE (Kompetensi Sosial Emosional) tersebut tidak hanya pada
kesuksesan diri seseorang dalam akademik yang lebih baik namun juga memberikan
pondasi yang kuat bagi seseorang untuk dapat sukses dalam berbagai area kehidupan
mereka di luar akademik (CASEL ORG). Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran sosial emosional dapat dilatih dan ditumbuhkembangkan di
luar pembelajaran, terintegrasi dalam pembelajaran dan menjadi budaya atau
aturan sekolah sehingga dapat menciptakan well-being dalam ekosistem pendidikan
yang sejalan dengan filosofi Kihajar Dewantara. Melalui latihan kesadaran penuh
secara konsisten dapat menumbuhkan kesadaran diri, penghargaan terhadap
perbedaan dan empati, pemahaman diri dan orang lain, serta kemampuan dalam
menghadapi berbagai tantangan dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Keterkaitan antar materi
pembelajaran sosial emosional berkaitan dengan modul 1 dan 2.1. Modul 2.2
pembelajaran sosial emosional berkaitan dengan modul-modul lain yang telah
dipelajari sebelumnya bahwa dalam menjalankan nilai dan perannya sebagai guru
penggerak, maka seorang guru penggerak haruslah memiliki kemandirian,
reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid. Guru
penggerak juga harus menggunakan segala kekuatan dan potensi yang ada untuk
membangun budaya positif di sekolah. Budaya positif yang dikembangkan hendaknya
dapat mendorong pemenuhan kebutuhan belajar siswa sesuai dengan kodrat yang
dimilikinya. Hal ini senada dengan filosofi KHD yakni pendidikan itu harus
berjalan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.
Jika pembelajaran sosial
emosional dengan pendekatan berkesadaran penuh (mindfulness) menjadi budaya
positif di sekolah maka pembelajaran berdifferensiasi akan lebih mudah diterapkan
karena peserta didik dapat lebih fokus, semangat, bertanggung jawab terhadap
tugas dan pekerjaannya. Hal ini tentunya akan membahagiakan mereka karena
pembelajaran yang disajikan sesuai dengan kebutuhan belajar, minat dan
profil mereka.
Melalui pembelajaran
berdifferensiasi dan pembelajaran sosial emosional juga diharapkan dapat
mewujudkan profil pelajar pancasila. Maka dengan demikian terwujudlah
insan-insan yang cerdas dan berkarakter yang pada akhirnya berujung dengan
melahirkan berbagai kebijaksanaan.
Komentar
Posting Komentar